[Renungan] Ketika Memaafkan Terlalu Berat
“Sesungguhnya lubang jarum takkan terlalu sempit bagi dua orang yg saling mencintai.
Adapun bumi takkan cukup luas bagi dua orang yang saling membenci.”
(Al-Khalil Ibn Ahmad)
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh..
Ada satu ucapan, dengan satu napas ‘tuk menuturkannya..
Maaf.
Setunggal kata, singkat dan sederhana. Namun ia menjadi sarat makna, sarat kekuatan dan kedahsyatan bagi hati yang tidak terlatih ‘tuk memberikannya dengan ikhlas. Ialah sebuah perjuangan yang begitu pahit dan meletihkan, ‘tuk sepenuhnya memberi ruang di hati ini, ‘tuk dengan tulus menghaturkan, “Iya, aku sudah memaafkanmu..” Maafkanlah.. ^^
[Renungan + Semangat] Karena ALLAH Bersama Kita
“… If you draw closer to Me by a hand span, I will draw closer to you by forearm’s length.
If you draw closer to Me by a forearm’s length, I will draw closer to you by an arm’s length.
And if you come to Me walking, I will come to you running.”
(Hadits Qudsi, Bukhari)
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh..
“Laa tahzan.. Inallaaha ma’ana..” (Q.S. at-Taubah:40)
Fi.. Jangan bersedih.. Sesungguhnya, ALLAH bersamamu, Ukh..
Subhanallah, sekali lagi.. Ana benar-benar terenyuh, setiap kali ana ingat potongan firman-Nya. Tiap kali dentingan nada cinta-Nya berdengung di telinga dan qalbu ini, ruangan hati benar-benar terasa terlindung, ditetesi bulir-bulir bening yang menyejukkan. Perasaan tenang itu dengan setia membisikkan, bahwa apa yang kita alami, entah sedih, entah bahagia, selalu ada ALLAH yang mengisi dan merencanakannya semuanya.
Karena hati ini menyadari, bahwa ALLAH menghibur kita, dengan lembut mengisi celah-celah kesedihan kita, berfirman “Jangan bersedih, sesungguhnya ALLAH bersama kita.” KARENA ALLAH BERSAMA KITA
[Cerpen] Ayah.. Maafkan Aku..
Bismillaahirrahmaanirrahiimm..
Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Ini adalah salah satu short stories yang pernah saya tulis. Berhubung saya sedang bingung ingin tulis apa, saya post tulisan lama saja, ya. ^__^ Semoga bermanfaat..
Ayah.. Maafkan Aku..
Oleh: Nofriani
Mata itu menatap lama. Berkaca-kaca, namun bulirannya tak kunjung meluncur dari bendungan. Bibir itu bergetar dan membiru, menggigil dalam hening. Kening itu berkerut dan berlipat-lipat. Giginya gemeritik membendung emosi yang telah sampai di puncaknya.
Serangkaian guratan rumit di wajah muda itu menyampaikan setunggal ekspresi memilukan; penyesalan.
Wajah itu kembali mengenang sepenggal masa lima tahun silam. Ketika violinist itu memintanya dengan lembut..
“Anakku.. Ini hadiah ulang tahun untukmu, Nak. Pertunjukannya hanya sebentar, ayah cuma minta 10 menit-mu, Nak..”
“Bohong!” Sahutnya dengan kasar. Aku benci!
[Semangat + Renungan] Ketika Futur Menyerbu Qalbuku
“Laa Tahzan.. InnALLAHa ma’anaa..” (Q.S. at-Taubah: 40)
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuhu..
Inilah sepotong cerita dari ana. Sebuah potret mungil kehidupan.
Untuk antum, Saudaraku.. Semoga bermanfaat.

Bisa jadi, sedih dan nestapa, hambar dan futur, adalah bentuk kerinduan yang nyata dari ALLAH.. Agar kita curhat pada-Nya..
Beberapa hari ini hati ana menyusup, menciut dan menyudut. Menyendiri, sedih dan sendiri. Kiranya piala kaca terpecah-belah, maka kepingannya masih kalah menyedihkan dibanding lempengan hati ini. Entah karena kesibukan perkuliahan yang melelahkan, tugas dan amanah yang kian menekan pundak, atau kondisi tubuh yang sedang sangat tidak bersahabat.
Futur.
Itulah istilah paling tepat yang ana pilihkan untuk menggambarkan keadaan ana belakangan ini.
Kefuturan tengah menghantui jasad dan raja yang menitahkannya (hati). Kerajaan hati ana tengah mengarat dan berkapur. Mengeras dan membeku bagai bangkai Titanic di Altlantik sana. Ah, entahlah. Ada apa dengan ana. Makan tak enak, tidur tak enak. Belajar terhambat, menulis tersendat. Tak ada ekstase. Kelindan yang dulu selalu ana rasakan ketika menulis tiba-tiba lenyap tanpa jejak. Tanpa isyarat dan peringatan.
Ya, beberapa hari lalu ana tengah futur. Mungkin, antum, para pembaca Merajut Kata, tak dapat menyana bahwa ana ‘sedang begitu’, ‘bisa begitu’. Namun rupanya setelah ana berhasil meraih ekstase itu kembali, ana sadar sekali lagi.. Penulis itu..
[Semangat] Ukhtiy, Aku Nggak Cantik…
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuhu.
“Ukhtiy.. Kenapa ya.. Aku nggak cantik..?”
Pernah ada yang bertanya begitu pada ana. Hm, ingin kugenggam tangannya, berujar lembut seraya tersenyum, “Tiap wanita itu cantik.. Ini hanya soal persepektif..” Semoga tulisan ini mampu menenangkan muslimah anggun yang tengah membacanya. Aamiin..
“Ukhtiy, setiap manusia,” ujar Safira Khansa, “Diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Maka inilah hadiah kecil dari ana, untukmu Saudariku. Saudariku yang cantik, cerdas dan insya ALLAH shalihah.
Kadang, kala melihat aktris KCB, Ayat-ayat Cinta, dll, hati ini ciut melihat pesona kecantikan yang dimiliki tiap-tiap mereka. Ntah “cantik(?)” karena seksi, atau cantik karena keanggunan dan kelembutannya. Sedang kita, bila berkaca selalu menghela napas, “Kenapa, ya, aku nggak cantik?”, “Kenapa ya, aku gemuk?”, “Kenapa ya, aku nggak putih?”, “Kenapa ya, aku jerawatan, pendek pula?”, “Kenapa, sih?”
Hm, panjang pokoknya keluhan dan “cita-cita” kita tentang kecantikan fisik ini. Duh, coba deh, ana tanya, perempuan yang cantik itu seperti apa, sih?
Apa yang ketika lewat tiap pasang mata terpesona dengan wajahnya? Apa yang fotonya dikoleksi satu juta orang? Apa yang diperebutkan banyak pria? Atau yang jadi bunga kampus (bunga desa kali ya :p)? Bukan kan, ya?







