[Puisi] Hati Menanti


Calon suamiku..

Di sini hati menanti dirimu..

Di sini daku menanti senyummu..

Menanti cintamu..

Menanti perlindunganmu..

Calon suamiku..

Di manakah adanya kanda..

Tiap detik kupikirkannya..

Sehatkah ia, setampan apa wajahnya..

Kapankah datangnya.. Oh cinta..

Calon suamiku..

Di sini dinda berdoa..

Agar senantiasa Allah jaga..

Kanda untuk dinda..

Pun dinda untuk kanda..

Calon suamiku..

Dinda tak cantik, pun tak manis..

Dinda tak indah, tak pula sempurna..

Kah kanda sudi datang kesini..

Menemani hingga di surga bermata air..

Calon suamiku..

Hati ini merintih dan tertatih-tatih..

Cinta dan rindu, sudah dalam terpatri di sini..

Menanti hadirmu, wahai pengisi hati..

Walau wajahmu pun masih tak pasti..

Calon suamiku..

Ingin kusampaikan getaran hati..

Getaran hati yang selalu menanti..

Menanti jemputan pangeran berkuda putih..

Aah. Ingin hati menjerit untukmu kasih..

Calon suamiku..

Bila tiba saatnya nanti..

Jemput dinda di sini..

Pinta ayah tuk bawaku pergi..

Bersama jalani hari..

Calon suamiku..

Hati ini tak henti menanti..

Kecup kening calon suami..

Memberi hidup yang sarat arti..

Hingga lahir para calon buah hati..

Puisi ini kupersembahkan untuk calon suamiku yang akan menjadi yang tercinta selama-lamanya. Di mana pun dia berada. Daku menantimu wahai calon ayah anak-anakku. Wkwkwk. :lol:

About these ads

About fi

Muslimah Biasa..

Posted on March 19, 2011, in Bikin-bikin puisi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 61 Comments.

  1. ha..ha…keren fi..,

  2. (calon suami misalnya) dinda.. begitu pun kanda… kanda pun tak putih, pun tak bersih,
    rambut pun bergulung bagai ombak
    maukah kau menerima kanda??

    ha ha ha ha ha peace…

    • haha, subhanallah baru kali ini ada yang komen kayak gitu di karay sepenuh hati saya.. hehe..

      (misalnya dialog) tenang saja kanda, dengan begitu dinda akan rajin meminta kanda sisiran hehe..

      • (dialog juga) oh dinda… tak bisa lagi rambut ini disisir
        tak bisa lagi rambut ini tertata
        dinda…
        meski begitu
        hati ini lurus untuk menyayang mu
        tak pedli rambut yang bagai ombak
        tak perduli ia kruwel kruwel

        oh dinda, datanglah padaku dan katakan padaku

        mas mas, dah berapa abad ga kramas?? ha ha ha

  3. novrian jaya

    mantap pisan lah puisinya…
    kok tiba2 teringat kisahnya ALi dan Fatimah ya????

    • ya Alhamdulillah kalo begitu, kak.. jazakummullah..

      iya, sungguh beruntung laki2 yang berjodoh dng wanita selembut Fatimah..
      beruntung pula wanita yang berjodoh dng laki2 penyayang dan berjiwa pemimpin..

      laki2 yang baik utk perempuan yang baik, dan sebaliknya..
      (sedang belajar jd lbh baik supaya bertemu dng yang lebih baik..hehe)

  4. kak Arie : nah, kalau begitu cuma bisa berdoa semoga rajin keramas.. wkwkwk

  5. haaaa dek Fi ni,,jangan lupa ngitung garis di pundak dek..
    klo belum empat brati masih lama..hooo
    sabar sabar…brati bakal ada banyak puisi lagi ni :D

    • wkwkwkwk..
      mbak eh, jadi patah semangat T^T
      whehe, iya udah ada kok mbak, puisi part 2-nya.. tapi ga berani publish, hehe..

      ya mbak, sabar menanti tulang rusukku.. wkwkwk..

  6. ^_^ siiiplah, barakallah…semoga tak lama lagi menanti harinya ya, hehe.. :mrgreen:

  7. Semoga ALLAH SWT menganugerahkan suami yang sholeh buat dirimu, Amin. :D

  8. Sudah siap fi? :)

  9. hiihiihi….

    kereeeen fi…

    ^_^

  10. hihihii….. jika tak dibaca di apaain dunk ukhty??????? hehehheheheh

  1. Pingback: [Puisi] Hati Menanti (Bagian 2) « Merajut Kata

Terima kasih komentarnya ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: