[Semangat] Jangan Hanya Mengharap Reaksi


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaykum.wrh.wbr.

P.S: Seseorang protes padaku, “Blog dek Fi bahasa Inggris doang isinya. Coba bikin lagi kayak Menghapus Kesedihan itu, Dek.” Nah, loh? Aku nyadar, setiap kali aku ingin menulis artikel sejenis pengggali semangat dan kekuatan batin (alah, hehe), aku suka kesulitan memperkuat dasar dari apa yang aku tulis. Aku sendiri belum tentu sekuat dan seindah yang kutulis. Mau kasih orang semangat padahal aku sendiri butuh? Hehe. (Semangat!) Tapi sekarang kucoba lagi yah. Selamat membaca. ^^

Pernahkah kita merasa dikasari, dibohongi, dijahati, orang-orang seperti tak suka kita senang? Merasa kita sial amat sementara ga ada yang peduli dengan masalah kita? Sendiri dan sepi? Merasa semua sudah hilang dan pergi? Ga ada satu jantung pun membantu kita?

Pernahkah kita merasa terus gagal, ga pernah bisa meraih walau setitik keberhasilan saja? Seakan-akan tak ada satupun alasan bagi kita untuk bersyukur? Kitalah satu-satunya yang tidak pernah merasakan kepuasan hasil dari usaha? Air mata pun tak kunjung kering?

I’m telling (reminding) you (and me), buddies. Tidak ada yang perlu kita sesali di hidup ini, teman. ^^ Apa salahnya kita bersyukur? Daripada sibuk ngurusin tubuh pendek atau muka jelek, kenapa ga kita lihat orang-orang lumpuh yang duduk aja musti dipapah? Apa kita tak merasa lebih beruntung dari seorang wanita yang disiram air keras oleh suaminya hingga wajahnya melebur? Tapi tidak, kita terus saja ingin menjadi makhluk paling cantik (atau ganteng) dan hebat.

PS lagi : Itu foto anak-anak, loh ^^

Begitulah kacamata manusia yang mungkin hatinya sedang sakit, selalu melihat apa yang tak dia dapat, tak perhatikan sedikitpun segunung nikmat yang diberikan Allah padanya. Apa lagi mensyukurinya. Tak perlu kita menunggu alasan untuk bersyukur, karena alasan itu terlalu sering datang tuk ditunggu. ^^

Oh. Mungkin ada yang merasa tak cukup dengan penjelasan ini, bahwa cukuplah kita “nerimo”. Ya, benar. Kita juga harus berusaha menjadi lebih baik (bukan hanya mendapatkan yang baik-baik). Memang sudah fitrah manusia “Merasa tak cukup”, “Selalu ingin lebih”. Tapi tentu ada etikanya. ;) Mari coba kita renungkan. Kucoba sampaikan bukan tuk menggurui, tapi kita sama-sama belajar. ^^

Kamu tahu Om Isaac Newton? Aku bukan ingin bicara tentang beliau, tapi tentang penemuannya. Hukum-hukum legendarisnya, serta kaitannya dengan apa yang kita alami di dunia ini.

Hukum I Newton, Kelembaman. “Suatu benda bergerak akan tetap bergerak—dan benda diam akan tetap diam—selama jumlah gaya yang bekerja padanya sama dengan nol.” Penerapannya –menurutku—ketika kita berada pada suatu stage, jika bukan kita yang berusaha berubah (gaya milik benda), atau ada sesuatu yang membuat kita berubah (ada gaya dorong atau gaya tarik pada benda), maka takkan ada yang berubah. Begitu terus. Semisal kita susah bangun pagi, jika bukan kita sendiri yang berusaha bangun, atau ibu membangunkan kita, apa yang akan terjadi selanjutnya? Ya kita tetap berbaring. So, do something to make a change, ya, kan? ;) *Aku juga sedang berusaha nih ^^’

Terus Hukum II Newton, “F=m.a.” Apa artinya ini? Menurutku  juga nih, jika kita punya modal (massa) ditambah kekuatan (kecepatan) kita mengubah keadaan, maka akan terjadi “something” (gaya sebesar F). Semisal lagi bila kita ingin lancar bicara Bahasa Inggris, anggaplah kita punya bakat desire and spirit, tapi bila kita tidak latihan, ya.. Begitu-begitu doang jadinya kemampuan kita, friends. ^^v

Yang terakhir, Hukum III Newton: Reaksi = (-) Aksi. Besarnya reaksi akan sama besar dengan aksi, tapi berlawanan arah. Maksudnya begini, ingin makan apel? Beli/tanamlah. Seenak apa rasa apel yang kita mau? Tergantung rajinnya kita menyiraminya, atau tergantung harga apel yang kita beli, ya, kan?

Atau, saat terjadi pemadaman listrik. Orang-orang pada menggerutu PLN ga berbakat ga perhatian. Menurutku sih, daripada ngomel-ngomel nambah dosa, mending kita nyari senter atau lilin? Berhemat listrik biar ga ada lagi pemadaman bergilir, ya toh? Sekring suka putus? Lah kenapa kita nyalahin keadaan daya listrik kurang? Kenapa ndak kita gunakan peralatan elektronik secara bergilir biar listriknya ga boros dan ga kaget-kaget? v^^v

Sama halnya saat aku tulis ini dengan harapan teman-teman bisa lebih semangat dan ikhlas menjalani hidup, bahagia dan bersyukur. Padahal aku mungkin sedang patah semangat atau rapuh-rapuhnya. Eh, seiring finishing artikel ini ntah dapet spirits injection dari mana. ^^’ Nah, contoh lagi tuh, beraksi dulu baru menunggu reaksi. Kalau aku tetep murung bermuram durja, ya ga jadi nih tulisan, ga bakalan ada feedback dari pembaca, kan? ^^v

Buat yang masih SMP/SMA, bila kita ingin nilai Fisika kita bagus, apa pantas kita menggerutu tentang si Galak (Guru Eksak biasanya gitu—katanya—) yang ngajar di kelas? Apa artinya kita menunggu contekan dari teman? Apa kamsudnya kita menunggu suntikan kemahiran dari langit ke kepala kita? Takkan ada yang bisa kita dapatkan bila kita tak memberi, saudaraku. Wong yang suka memberi saja belum tentu langsung bisa menuai. ^^

Aku menyadari sesuatu, banyak manusia yang berharap keramahan dan kebaikan orang lain. Tapi ups, tunggu dulu, benarkah pada tempatnya dia berharap? Pun kita (aku juga nih), sudahkah kita melakukan kebaikan sebelum mengharapkan hal yang sama? Kita menginginkan pujian padahal tak sekalipun kita menghargai orang lain? Mengharapkan kasih sayang dan keramahan padahal tak pula kita tunjukkan perhatian kita? Mengharapkan sebuah telpon padahal kita sudah begitu sombong, pelit buanget walau cuma sms sekali? Pantas? Siapa berani bilang “iya”?

Inilah yang menurutku orang suka keliru. Analoginya adalah menunggu. Banyak orang menunggu saja, padahal katanya tak suka menunggu. Kenapa? Ya karena tak ada yang bisa kita dapatkan hanya dengan menuggu sesuatu terjadi.

The big question is “What if I’ve done my best but nothing happens yet”? Kita udah berusaha baik sama orang, tapi orang itu masiiih aja kasar. Udah berusaha belajar tiap malam, tapi masiiih aja ga bisa Matematika. Udah berusaha jaga kesehatan, tapi masiiih aja sakit. Dan udah berusaha ga nakal, masiiih aja orang ngomongin (baca:gunjing). Satu sebabnya mungkin kita tak sepenuh hati melakukannya, bisa jadi ada sifat riya nyelip di tindak tanduk kita, sehingga Allah nggak ridho. Atau ada sifat takabur, ujub, atau bahkan dendam. Semoga tidak, ya? Aamiin. d^^b

PS : pak Ustadz ngajarin di sebelah nih.. d^^b

Bila dari hati pun sudah tak salah, aku hanya bisa mengutip, “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Dan, “Sesungguhnya pertolongan Allah itu sangaaat dekat.” ^^

Semisalnya aku. Tahukah kamu, aku terpaksa rajin sakit, sampai sekarang. Setiap kali jatuh sakit aku merasa sangat sial. Padahal aku seharusnya aku nyadar, ingin sehat ya jaga kesehatan. Hehe. :lol:

Aku menyadari sesuatu, aku tak berusaha jaga kesehatan, kena maag kronis karena aku dulu suka telat makan, jam tiga baru makan siang. ==’ Juga aku kena darah rendah, lah aku tidurnya kemalaman terus. Seharusnya aku yang nyadar aku tak kuat, berusaha untuk setidaknya tak lemah. ^^’  Jadilah reaksi tubuh kurusku memberontak karena aksiku tak memperlakukannya dengan baik. Memang tak banyak sih, tapi aku mulai disiplin makan dan istirahat, juga mengkonsumsi Habatussaudah (Jintan Hitam), plus makan yang bergizi. Tentunya selalu berusaha senang. Kalau olahraga masih belum. :razz:

Alhasil, sedikit-sedikit aku mulai jarang ke dokter. Uang jajanku lebih banyak habis buat makan daripada ke UGD atau Rumah Sakit. (Kalau dulu kebalik, hehe. Hasil berhemat malah habis buat bayar dokter). Suatu hari aku jatuh sakit lagi. Aah. Rapuh buanget saat itu, deh. Aku coba konsultasi dengan seorang hamba Allah (Dialognya di-lebayin :D).

Dalihku begini, “Fi dah berusaha jaga kesehatan, eh. Ga kurang tidur dan ga telat makan. Tiap ada kuliah yang melewati zuhur di kampus fi selalu bawa bekal, kak. Fi juga selalu bawa minyak kayu putih. Semua dah fi lakuin biar ga sakit. Hiks-hiks. T_T” *sambil nangis2 :D

Kakak tersebut membalas, “Dek.. Calon penghuni surga itu harus mendapatkan banyak kesulitan dulu untuk bisa meraihnya.” (Ini ada di Al-Baqarah 214).  Aku terdiam. Berpikir. Iya juga, ya. Mungkin ada rasa iri di hatiku, pada mereka yang berotot dan sehat. Atau ada ambisi tuk membuktikan pada yang merendahkanku bahwa aku juga bisa sehat. (Padahal seharusnya untuk mencari ridho Allah).

Aah. Setelah instropeksi diri, kusadari sesuatu. Dari pemaparan Hukum III Newton tadi, dalam kehidupan ini reaksi tak harus datang sesaat setelah aksi. Tak juga harus dalam bentuk yang kita mau. Jika tidak di dunia kita menuainya, InsyaAllah di akhirat nanti. ^^ Misal kita memberi pengemis uang seribu, tak musti seribu pula yang kembali. Bisa jadi pertolongan Allah datang dalam bentuk hadiah kiriman laptop dari ayah. Mengingat janji Allah saja rasanya senang, apalagi kalau beneran terjadi? ^^b

Yah, tak apa. Bila tak sekarang kita memanen apa yang kita tanam, maka mungkin satu dua hari lagi. Selama kita bersabar, insya Allah akan datang pertolongan Allah. Allah ridho, itu sudah cukup. Apalagi bila kita lupa dengan kebaikan kita, kita akan merasa “Loh, kok tiba-tiba dapat rezeki nomplok?” Padahal itu adalah bentuk reaksi Allah akan aksi kita mencari ridho-Nya. ^^ Subhanallah, ya?

Aku tutup artikel kali ini dengan kalimat pamungkas ala Nofriani, hehe:

Ingin reaksi? Beraksilah. Tapi saat sudah ada aksi, jangan heran jika Reaksi Sang Maha Cinta akan jauh dari jangkauan imajinasi kita. ^^

d^^b Semoga bermanfaat.

About these ads

About fi

Muslimah Biasa..

Posted on April 12, 2011, in Butuh Semangat? and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 12 Comments.

  1. MANTABZZZZZZZZ……….I LIKE IT

  2. mantap… aksi memang mendatangkan reaksi, terlepas dari seperti apa reaksi itu

  3. Aksi?? Reaksi??? opo meneh kui??? aku ga mudeng?? ha ha ha ha btw good idea.

    • Nggeh,, ngono lah maksd ku.. @.@
      *sudah dibilang saya ga bisa bahasa Jawa.. ^^’

      ya original idea tuh ka.. hehe..

      • Ku taunya reaksi kimia sih.. jadi kagak nyambung

        Iya iya tau lau ga bisa bahasa jawa..

        Wuish.. Original Idea, dikasih label copyright dunk biar ga dibajak kayak kaset he he hehehe peace ^_^

  4. Heheh.. :D
    iya udah lama copyrightna..
    hak cipta dilindungi Allah swt.. v^^v
    tp kl disini hampir pasti ndak bisa kita protect… kata orang..

  5. kunjungan hari ini,,senang lihat tulisan yang mencerahkan…:-)

Terima kasih komentarnya ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: